ZONA INSPIRASI ALA ULAMa

Inspirasi besar yang membuat keinginan para ulama untuk selalu menulis adalah keinginan untuk mendokumentasikan dari ilmu yang telah mereka belajar sebelumnya agar bisa dijadikan tolok ukur baginya dan juga sebagai bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya dan terus menerus diulangi dan tak ada habisnya dipelajari. Dan apabila kita menengok sejarah perjalanan para ulama memang kesehariannya digunakan untuk belajar bahkan sampai mempertaruhkan harta dan dunia untuk mendapatkan Ilmu tersebut hingga akhir hayat mereka. Sungguh tak ada habisnya bila kita akan membahasnya dari awal hidup sampai wafatnya merka seperti mata air yang terus memancar yang tak akan pernah habis untuk dibahas dan diresapi ilmunya.
Disini saya hanya akan membahas sedikit tentang bagaimana cara dan passion mereka memperoleh inspirasi untuk terus belajar lalu mengajarkan dan mendokumentasikan lewat jalan menulis. Dan beberapa yang dijadikan inspirasi para ulama yaitu ada 7 Zona Inspirasi yaitu: Pertama Zona Terus Belajar Mereguki Ilmu, Kedua Zona Mencintai Ilmu (buku), Ketiga Zona Berceria Dalam Membaca Buku, Keempat Zona Inspirasi Selalu Mengajarkan Ilmu, Kelima Zona Untuk Menulis Setelah Belajar dan Mendapat Ilmu Baru, Keenam Zona untuk Mencatat Ide Dan Faedah Yang Ditemukan diperjalanan mempelajari ilmu, dan yang Ketujuh Yaitu Zona Inspirasi Untuk Menghafalkan dari Ilmu yang telah dipelajari.
Dan disetiap Zona inspirasi akan Saya berikan contoh perilaku sesuai Bab dan riwayat yang telah tertulis pada Kitab yang ditulis para Ulama dahulu. Agar kita lebih bisa masuk kepembahasan dan lebih merasakan suasananya perZonanya. Misalnya: Para ulama yang telah banyak menuliskannya diKitab-kitabnya Ibnu Qoyyim Aljauziah, Al-Mu’afi An-Nahrawani, Abu Raihan Muhammad bin Ahmad Al- Khuwarazmi, Imam Al-Maqrizi, Abul Ala’ Al Hamdani dan masih banyak Ulama Islam dahulu yang telah mahsyur dalam dunia kepenulisan yang tidak bisa disebutkan satu persatu karena memang jumlahnya sangat banyak, mari menoba menelusuri sepotong episode biografi yang terangkum mini berikut.
Barakalloh Ikhwah fillah selamat mereguki Ilmu:D

Pertama, Zona Terus Belajar Meregukki Ilmu
Lelah tak ada pernah mampir dalam kamus kehidupan para ulama terdahulu dalam mencari ilmu. Sekuat mampu, segenap tenaga mereka kerahkan sepenuhnya untuk Terus Mereguki Ilmu. Maka segala apa yang telah para ulama lakukan adalah contoh Real bagi generasi kita sekarang untuk dijadikan panutan kehidupan ini. Riwayat hidup mereka yang telah tertulis dengan rapi akan memberikan bagaimana peregukan itu menghilang dahaga dan bagaimana inspirasi it uterus menerangi sepanjang zaman masa hidup mereka bahkan sampai generasi setelah mereka yaitu sekarang ini. Berikut beberapa biografi-biografi ulama yang menjadikan perjalanan hidupnya untuk mencari ilmu.
Imam Muhammad bin abdul Baqi Al- Anshari
Dalam kitab yang pernah ditulis beliau Adz-Dzail ‘ala Thabaqat Al-Hanabilah. Beliau meriwayatkan dirinya sendiri berikut tulisan beliau, “Saya hafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun. Semua ilmu yang ada pada ulama telah saya pelajari dan kuasai, baik sebagian maupaun seluruhnya”.
Nah uniknya, beliau menuliskan kitab ini pada saat peristiwa ditahan oleh pasukan bangsa Romawi yang menjajah negerinya. Merka mengikatnya dan membelenggu leher tubuh beliau. Dan mereka memaksanya untuk berucap kata-kata kufur, namun beliau tidak mau melakukannya. Bahkan beliau sempat-sempatnya belajar tulisan Romawi dari mereka.
Jika dalam riwayat diatas maka kita dapat mengambil pesan bahwa kecintaan seorang penuntut ilmu untuk tetap semangat walau dalam keadaan siksa mendera, dan bahkan maut yang telah hadir di ambang pintu untuk menjemput.
Al-Mu’afi An-Nahrawani
Dalam kitab Al-jalish Shalih yang beliau tulis,” Beberapa orang Bani Furath pernah bercerita kepadaku, dari orang yang berasal dari kalangan mereka atau selain merka bahwa dia berada disamping Abu Jafar Ibnu Jarir Ath-Thaubari sebelum beliau meninggal dunia (satu jam atau kurang dari itu, beliau kemudian meninggal). Saat dibacakan doa dari Jafar bin Muhammad beliau pun meminta tempat tinta dan secarik kertas, dan kemudian menuliskannya. Seseorang bertanya kepadanya, ‘Kenapa Antum masih sempat menulis dalam kondisi seperti ini?’ Beliau Hendaknya orang itu harus tetap belajar hingga meninggal dunia”.
Abu Raihan Muhammad bin Ahmad Al- Khuwarazmi
Kitab Irsyadul Arib, Yaqut menyebutkan biografiAbu Raihan dan menjelaskan semangatnya dalam mencari ilmu dan menyusun buku. Yaqut menyebutkan kesaksian dari Al Walwalji. “Aku,”kata Al-Walwalji,”menemui Abu Raihan menjelang kematiannya. Nafasnya sudah sampai kerongkongan, sedangkan dadanya semakin terus sempi. Akan tetapi, pada saat itu beliau menyempatkan padaku “Apa pendapatmu tentang jatah warisan untuk nenek dari pihak ibu? Dan penuh iba saya menjawab,Aku bertanya ,”Kenapa Anda masih bertanya sempat bertanya padaku dalam keadaan seperti ini? Bukankah jika aku mati dalam mengetahui maslah ininlebih baik daripada aku mati tanpa mengetahuinya? Jawabnya. Kemudian aku pun beranjak keluar dari sisinya. Ketika sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan kematian.”
Maka pesan yang dapat diambil dari riwayat ini adalah kita harus terus SEMANGAT MENUNTUT ILMU SELAMA HIDUP KITA SAMPAI AJAL MENJEMPUT.
Ibnu Jauzi
Kitab Muntazham, tersebutlah nama Thahir bin Abish Shaqr, “Dia adalah orang suka mengembara disepenjuru tempat Dan banyak berguru kepada para ulama dari berbagi negeri. Dia pernah mengatakan,” Buku-buku ini lebih aku cintai daripada segenggam emas”.
Pesan yang bisa diambil yaitu nahwa kecintaan akan ilmu harus lebih tinggi derajatnya daripada ukuran harta kehidupan didunia ini.
Imam Al-Maqrizi
Kitab Al-Muqaffa Al-Kabir meriwayatkan Seorang Ulama yaitu Al-Alamah Ibnu Shadaqah Al-Hamawi. Bahwa beliau adalah tipe orang super sibuk dalam dunia mencari ilmu dan belajar. Menurut riwayat Al-Hafizh Al-Mundziri, beliau menceritakan,”pada suatu hari saya mengunjungi Ibnu Shadaqah. Ketika itu beliau sedang asyik belajar dibawah sebuah terowongan bawah tanah karena panas yang menyengatnya. Saya pun bertanya pada beliau,”Apa Anda bisa belajar ditempat dalam kondisi pengap seperti ini?”. Beliau menjawab,”kalau tidak sibuk dengan mendalami ilmu apa yang bisa saya lakukan?”.
Pesan yang bisa diambil bahwa kita harus siap untuk selalu memproritaskan belajar untuk menuntuk ilmu dalam kondisi (waktu,tempat) apapun bentuknya.
Ibnul Jauzi
Beliau memberikan nasehat kepada orang yang Alim dan pencari ilmu. “sebaiknya, engkau mempunyai tempat khusus di rumahmu untuk menyendiri. Disana engkau bisa membaca lembaran-lembaran bukumu dan menikmati keindahan indahnya petualangan pikiranmu”.

Kedua, Zona Mencintai Ilmu (buku)
Kita tak berleihan apabila dalam kenikmatan zona inspiring para ulama dalam rasa mesranya kepada buku, sepertinya melebihi cintanya pada pasangan (istri). Bagaimana tidak, ketika kita menelusuri jejak hidup biografi para ulama terdahulu, kita mendapati ungkapan-ungkapan yang sedemikian menawan istimewanya, sanjungan-sanjungan kehormatan yang begitu tingginya, terhadap kecintaan mereka pada buku. Berikut jejak-jejak riwayat para ulama yang menyertai:
Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm
Kitab Risalah Maratib Al-Ulum. Pilar-pilar penopang ilmu:
“Memperbanyak buku”
Sebab tidak ada buku yang bermanfaat dan tidak menambah ilmu yang bisa diperoleh orang bila memang dia membutuhkannya. “Buku adalah sarana penyimpan ilmu yangpaling baik”. Orang tidak akam mampu menghafal semua ilmu yang pernah dipelajarinya.“Seandainya tidak ada buku,akan hilang ilmu yang telah ia pelajari selama ini”.
Disinilah kesalahan orang yang mencela upaya memperbanyak buku. , kalau pendapat itu yang dituruti maka akan berdampak besar yaitu ilmu akan lenyap. Dan kemudian orang bodoh akan memaksa melenyapkan ilmu dan mendakwahkan hawa nafsu mereka. Kalau tidak ada bukti atau kesaksian dari buku, pastilah klaim persepsi orang alim dan orang jahil akan dipandang setara sama!!
Al-Jahizh
Kitab Al-Hayawan, mengatakan, “Barangsiapa yan g ketika membeli buku tidak merasa nikmat melebihi nikmatnya membelanjakan harta nya untuk orang yang dicintainya, atau untuk mendirikan bangunan, berarti dia belum mencintai ilmu. Tidak ada manfaatnya harta yang dibelanjakan hingga dia lebih mengutamakan untuk membeli buku, seperti orang Arab Badui yang lebih mengutamakan susu untuk kudanya daripada utnuk memperoleh ilmu, seperti halnya orang Badui yanhg sangat mengharapkan kudanya”.
Ibnul Jauzi
Dalam pembahasan tentang MEMBACA BUKU didalam Kitab Shaidul Khatir, kitab ini menuliskan tentang diri beliau. “Aku tidak pernah kenyang membaca buku. Jika menemukan buku yang belum pernah dilihat, maka seolah-olah aku mendapatkan harta karun. Aku pernah melihat catalog buku-buku wakaf di Madarasah An-Nidhamiyah yang terdiri dari 6.000 jilid buku. Aku juga melihat catalog buku Abu Hanifah, Al-Humaidi, Abdul Wahab bin Nashir dan yang terakhir Abu Muhammad Bin Khasysyab. Aku pernah membaca semua buku tersebut serta buku lainnya. Aku pernah membaca 200.000 jilid buku lebih. Sampai sekarang, aku masih terus mencari ilmu”.

Ketiga, Zona Berceria Dalam Membaca Buku
Saat ilmu terhimpun didalam dadaku
Jiwaku menjadi bersih dan terhibur selalu
(Al Maqrizi)
Syeikh Ali Bin Muhammad Al-Imran
Kitab Al-Musyawwiq ilal Qira’ah wa Thalabul ‘Ilm
Menuturkan dengan apik mengenai kegelisahan beliau terhadap miknimnya perhatian generasi umat islam kepada kitab-kitab yang telah ditinggalkan oleh ulama terdahulu. Berikut penuturan beliau,”Imam Ibnul Jauzi mencela lemahnya semangat sehingga menyebabkan hilangnya banyak kitab ilmu terdahulu. Dia berkata,” Semangat ulama terdahulu sangat tinggi, buktinya adalah karya tulis yang merupakan hasil jerih payah merka dalam jangka waktu yang lama. Namun dermikian, banyak karya mereka itu lenyap karena malas terhadap kitab-kitab tebal. Kemudian merka membatasi pada sebagian kitab ringkas itu, sehingga hilanglah kitab-kitab tebal yang belum sempet disalin. Demikianlah penjelasan Ibnul Jauzi pada masa itu.
Padahal beliau sempat bertemu dengan
 Abul Wafa’ Ibnu Aqil Al-hanbali yang menulis Kitab Al-Funun dalam 800.000 jilid buku.
 Ibnul Khasysyab An-Nahwi yang menyusun sekian banyak kitab dan memiliki perpustakaan besar.
 Abul Ala’ Al Hamdani yang luas ilmunya dan sangat mencintai buku.
 Ibnu Hubairah seorang Menteri yang Shalih dan juga Ulama yang mengarang Kitab Al-Ayadi Al-Baidha ‘alal ‘Ilm wal Ulama, serta ulama selain mereka.

Lantas, apa yang akan kita katakana pada zaman yang berkumpulnya antara lemah semangat dan tekad,serta membanjirnya tempat hiburan dan hal-hal yang menyibukan dari membaca, bahkan dari membaca, bahkan dari mwncari ilmu secara total.

Keempat, Zona Inspirasi Selalu Mengajarkan Ilmu
Ketika yang saat ilmu tereguki, dan buku menjadi teman hidup, maka zona inspirasi berikutnya adalah Mengajarkan Ilmu agar tetap Lestari, baik untuk pengukuhan di jiwa, maupun untuk memberikan pengukuhan kepada yang lain. Semua sama-sama bermanfaat. Diri menjadi lebih paham. Orang lain juga menjadi paham. Maka kita akan mendapati, para ulama, gila-gilaan dalam metode mengajarkan. Saking terbiasa dan dalam mendalamnya penguasaan mereka terhadap suatu kitab, maka mereka mengajarkan dengan metode yang sangat padat dan tetap. Tidak bertele-tele dan memakan waktu. Oleh itulah, kita mendapat data-data seperti ini.
 Abdul Qadim bin Abdurahman An-Nurzaili Al-Yamini mengajarkan Al-Ubaib dalam masalah fikih 800kali.
 Az-zahid Shalih bin Abdullah bin Jafar Bin Ash-Shabbagh mengajarkan Kitab Al-Kasysaf karya Az-Zamakhsari dari hafalannya sebanyak 8 kali disertai dengan pembahasan, penelitian dan pemberitahuan atas kejanggalannya.
 Idris bin Jabir Al-Aizari Al-Yamani yang pernah mengajarkan ilmu yang ia peroleh kepada para orang yang belajar kepadanya Yaitu Kitab At-Tadzkiroh yang mengajarkan berulang kali terhitung sudah 40 kali. Subhanalloh 
 Abu Abdillah Muhammad At-Tawudi Ibnu Saudah Al-Marri Al-Fasi sesuai riwayat beliau telah mengajarkan Kitab Shahih Al-Bukhori hingga khatam berulang dari awal sampai khatam sebanyak 40 kali.
 At-Tibrizi mengajarkan kepada para muridnya Kitab Al-Hawi dari awal sampai Akhir terhitung sudah 19kali dalam hitungan bulan.
 Abu Ra’s Al-Muaskari Muhammad bin Ahmad bin Abdul Qadir Al-Jazairi telah mengajarkan Mukhashar Khalil selama 40 hari saja kepada para muridnya, sedangkan Kitab Al-Khulashah dalam 10 hari. Very Amazing bukan??

Kelima, Zona Inspirasi Untuk Menulis
Menulispun telah menjadi hal yang tak terpisahkan dari keseharian mereka setelah mereka mempelajari suatu ilmu dan juga menuliskan suatu pemikiran baru dari mereka. Yang terlihat dari riwayat nan mempesonakan kita yang jauh masa jaman kita dari semasa hidup mereka. Berikut riwayat yang mempesonakan kita:
 Ahmad Bin Muhammad bin Abu Al-Mawahib diriwayatkan dalam Kitab A’yanul Ashr, bahwa diriwayatkan beliau bisa menulis 5 buku/kitab dalam sehari.
 Imam Nawawi dalam Kitab Bustamul ‘Arifin, menceritakan dari gurunya, Abu Ishaq bin Isa Al-Murawi bahwa beliau pernah berkata, “ Aku mendengar syaikh Abdul Azhim Al-mundziri berkata ‘Aku telah menulis dengan kedua tanganku ini 90 jilid buku/kitab dan 700juz, semuanya berkaitan dengan ilmu hadits, baik berupa karangan maupun non karangan.’ Selain itu, Beliau juga masih menulis karya sendiri dan karya orang lain yang banyak jumlahnya.”
 Biografi Muhammad bin Mukarram, atau yang lebih dikenal dengan Sebutan Ibnu Manzhur, pengarang Kitab Lisanul ‘Arab bahwa beliau sering meringkas buku-buku tebal dan tipis. Beliau juga meringkas :
 Kitab Baghdad karya Ibnu An-Najjar beserta keterangannya,
 Tarikh Dimasyqa karya Ibnu Asakir,
 Mufradat Ibnul nbaithar dan Al-Aghani yang disusun sesuai abjad,
 kemudian juga meringkas Zahrul Adab karya Al-Hushri,
 Al-Hayawan karya Al-Jahizh,
 Al-Yatimah karya Tsa’labi,
 Adz-Dzakirah karya Ibnu Basysyam,
 serta Nisyawarul Muhadharah karya At-Tanukhi.
 Beliau menyalin banyak sekali kitab hingga ketika beliau meninggal, buku warisannya adalah 500jilid kitab.
 Dalam Adz-Dzail, cucu Ibnul Jauzi mengatakan bahwa dia pernah mendengar kakeknya berkata di atas mimbar di akhir hidupnya,’Sungguh aku telah menulis 2000 jilid buku dengan dua jariku ini”.
 Ahmad bin Abduddaim Al-Maqdisi bila tak ada pekerjaan, dalam sehari menulis 9 buku atau lebih. Jika ada pekerjaan, hanya lima buku saja. Dan beliau mengaku sendiri, beliau sudah menulis 2.000 jilid buku selama 50 tahun lebih.

Keenam, Zona Inspirasi Untuk Mencatat Segala Ide dan Faedhah Yang Berhamburan
Jika ide dan faedhah adalaj binatang buruan, maka mencatatnya agar tak hilang adalah pengikatnya. Maka kebiasaan untuk mencatatnya sesegera mengkin ide-ide faedah faedah yang berhamburan pelu dibiasakan. Agar ia tak menguap begitu saja, kemudian di lain waktu dan lain hari baru menggerutu. Itu tentu tidak patut ditiru. Maka tirulah para ulama itu.
 As-Sakhawi dalam Al-jawahir wad Durar menuturkan, “berkenaan dengan ilmu tafsir, ibnu Hajar Al-As-Qalani pernah menyesal karena tidak mencatat sebuah faedah yang beliau temukan terkandung didalam sebuah ayat Al-Quran, Yang Hal itu tidak terdapat dalam pada riwayat. Pada akhirnyas beberapa murid beliau yang ebrusaha untuk menulis itu”.
 Pada suatu malam Al-Humaidi keluar rumah, dan mendapoati rumah Imam Syafi’I masih terang karena lampu rumahnya masih menyala. “Apa yang sedang kalian lakukan wahai abi abdillah?” tanyanya. Imam syafi’I kemudian menjawab ,”Aku tadi memikirkan makna hadits, lalu aku khawatir hal itu akan lenyap dariku, maka aku pun memerintahkan seseorang untuk menyalakan lampu, lalu aku pun menuliskannya,”.
 Ibnul Abbar Al-Hafizh di dalam Mu’jam Ashhab Ash-Shadaqi, menyebutkan biografi Al-Akammah Abul Qasim Ibn Warad At-Tamimi, dia berkata,”Setiap buku yang disodorkan kepadanya, pasti dia lihat dari awal hingga akhir. Jika dia mendapatkan suatu faedah, dia pun mencatatnya hingga menjadi sebuah pembahsan baru.”.
 Imam Az-Zarkasyi sering bolak-balik ke pasar buku. Sesampainya disana, dia mengambil satu buku dan ditelaahnya sepanjang siang itu. Dia selalu membawa secarik kertas untuk mencatat sesuatu yang membuatnya kagum. Setelah itu, diapun pulang dan memindahkan catatannya itu kedalam buku karyanya sendiri.

Ketujuh, Zona Inspirasi Untuk Menghafal
Di Zona terakhir ini, yang sering dilalaikan generasi sekarang. Metode menghafal ilmu dikesampingkan karena dianggap membuang-buang waktu. Padahal tradisi keilmuan islam bukan hanya faham, tapi juga hafal. Maka kita mendapati sebegitu banyaknya riwayat tentang kualitas hafalan ulama-ulama terdahulu.
 Hamzah bin Muhammad bin Thahir berkata kepada Abu Abdullah Duwats, “Mengapa kamu mendiktekan pelajaran dengan hafalan, bukan dengan membaca kitab?”, Dia Menjawab, “Perhatikanlah pelajaran yang kudektekan, jika ada kesalahan maka aku tidak akan mendiktekan dengan hafalan lagi. Tetapi apabilankeduanya (hafalan dan kitab
) itu sama, maka apa perlunya harus membuka kitab?”.
 “Aku hadir di majelis Abu Abdillah Bin Bukair,” kata Al-Azhari, “Dihadapannya terdapat sejumlah buku yang tebal. Aku memandang sebagian dari buku itu. Dia berkata kepadaku,”silahkan ambil kitab yang kau sukai lalu sebutkan matan hadits yang ada di dalamnya, lantas aku akan memberitahukan kepadamu sanad hadits yang kau sebut itu. Atau kamuy sebutkan sanadnya lantas aku akan memberitahukan kepadamu matan ny,”lalu aku menyebutkan sejumlah matan hadits kepadanya. Dan dia pun langsung memberitahukan kepadaku sanad-sanadnya dengan hafalan diluar kepala.”
 “Sesungguhnya di rumahku ,” kata Abu Zur’ah Ar-Razi, “ada catatan yang ku tulis sejak lima tahun yang lalu dan saya belum pernah menelaahnya seja aku menulisnya. Tetapi sya pasti tahu letaknya di kitab apa, pada bab apa, pada lembar mana , pada halaman berapa dan pada baris ke berapa. Tidaklah telingaku mendengar suatu ilmu kecuali hatiku pasti segera memahaminya. Sesungguhnya saya berjalan di pasar kota kios-kios di sana. Saya segera meletakkan jari jemariku menutupi telingaku, karena khawatir kalau surge itu langsung dipahami oleh hatiku.”
 Muhammad bin Yahya,”aku tidak pernah melihat Abdurrahman membawa kitab. Setiap kali aku mendengar hadits darinya pasti aku m,endengar dia menyampaikannya dengan hafalan diluar kepala.” Dan Abdurrahman, biasa mengkhatamkan Al-Quran dua malam sekali, sebagaiman a tertera dalam Tadzkiratul Haffazh.